Donny Imam Priambodo: Internet Masuk Desa Bisa Picu Pertumbuhan Dua Digit

02 NOVEMBER 2015, 03:30:58 WIB 3 MENIT BACA 1456
Jakarta – Bertemunya empat menteri dengan CEO Facebook, Google, dan Apple Rabu (28/10) menumbuhkan ekspektasi tinggi perihal industri Teknologi Informasi (IT) di Indonesia. Bukan hanya industri star-tup (permulaan – red), tapi ke depan juga diharap mengarah pada penyebaran internet secara merata dari Sabang sampai Merauke. Tentu tugas itu berada di pundak Menkominfo Rudiantara, Mendag Thomas Lembong, Kepala BKPM Franky Sibarani, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf untuk merayu para CEO industry digital agar terlibat dalam upaya mewujudkan internet masuk desa.
Anggota Komisi XI DPR, Donny Priambodo menjelaskan bahwa internet masuk desa dalam perspektif bisnis terbilang tidak prospektif. Biaya yang harus dikeluarkan untuk investasi di fiber optic dan satelit sebagai infrastruktur pendukungnya juga tidak murah. Oleh karena itu, butuh peran serta perusahaan besar seperti Facebook, Google, dan Apple untuk mewujudkannya.
“Kalau kita bikin sendiri, itu tidak mungkin. Terlebih kalau perusahaan tersebut profit oriented, tidak akan menjamah pedesaan. Average revenue (penerimaan rata-rata – red) per user-nya kan rendah sekali,” tutur Donny saat berbincang di ruang kerjanya, di Gedung Nusantara I Kompleks MPR/DPR, Senayan, Rabu (28/10).
Skema yang bisa ditawarkan oleh pemerintah, menurutnya bisa dengan memaksimalkan Corporate Social Responsibility (CSR) dari ketiga perusahaan-perusahaan besar tersebut. Dengan begitu, perusahaan-perusahaan itu tak tak harus mengejar profil di awal, sebab bentuknya sudah sangat jelas yakni sebagai CSR.
Sebagai informasi, CSR adalah bentuk kontribusi sosial perusahaan terhadap masyarakat untuk memperkuat masyarakat rentan agar lebih berdaya. Dalam skema ini, masyarakat yang rentan terberdayakan. Daya belinya juga akan menguat sehingga pada ujungnya ikut menjaga keberlanjutan pasar itu sendiri.
“Karena profitnya udah gede banget, itu bisa gunakan CSR mereka (perusahaan digital dunia – red). Kita hitung saja misal CSR-nya 10% atau 5% maka akan bisa menutupi kebutuhan infrastruktur pedesaan. Dari facebook misalnya, kan membentuk komunitas dulu baru membuat strategi untuk kepentingan bisnisnya, seperti iklan dan lain lain,” ungkapnya.
Anggota Fraksi NasDem ini mengakui bahwa rencana besar itu tak mudah dilakukan. Hal ini terbentur persoalan geografis Indonesia dan pengetahuan masyarakat desa yang masih terbatas. Secara geografis, ia menyebut bahwa internet berkualitas baik di desa setidaknya membutuhkan teknologi satelit. Penetrasi teknologi juga terbatas karena pengetahuan terhadap smart phone belum sampai masyarakat pedesaan.
“Butuh waktu untuk membuat masyarakat bisa memaksimalkan itu. Paling tidak satu decade lah baru ada progresnya,” tandas pria kelahiran Jombang ini.
Donny membayangkan putaran ekonomi sampai ke desa mampu menopang perekonomian Indonesia ke depan.
“Transaksi konvensional yang selama ini dilakukan petani akan beralih menjadi transaksi online, untuk sekadar menjual beras atau cabai. Saya bisa mengatakan jika hal ini terwujud, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai dua dijit,” tuturnya.