Jakarta - Tren harga minyak dunia yang tengah turun saat ini dipengaruhi perekonomian dunia yang lesu. Banyak negara, termasuk Tiongkok menurunkan permintaan minyaknya. Oleh karena itu, posisi harga minyak dunia seperti saat ini, menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lewat penurunan harga jual BBM. Hal ini seperti disampaikan oleh anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi, usai rapat kerja dengan Kementerian ESDM, Rabu (26/8) di Jakarta. Menurutnya, meskipun kurs rupiah juga melemah tetapi secara netto, menyebabkan harga bbm saat ini sudah di atas cost. Dengan demikian, boleh dibilang sama sekali tidak ada subsidi. Bahkan pemerintah dengan harga minyak dunia saat ini memperoleh keuntungan. "Kalau harga BBM diturunkan, itu akan berdampak kepada daya beli rakyat (yang) meningkat. Kalau daya beli rakyat meningkat, konsumsinya juga akan meningkat. Nah, kalau konsumsi semua rakyat indonesia meningkat itu pasti berdampak kepada kenaikan pertumbuhan ekonomi, karena sifat ekonomi Indonesia secara signifikan pertumbuhan ekonomi, growsnya dipengaruhi oleh tingkat konsumsi rumah tangga," papar legislator NasDem asal NTB ini. Dalam hitungan Kurtubi, pertumbuhan ekonomi yang melemah dibawah 5 persen sekarang ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk menaikkan pertumbuhan itu dengan cara menurunkan harga bbm. "Saya perhitungkan sekitar Rp 6.500 untuk premium itu. Angka 6.500 tidak ada subsidi itu, diturunkan aja kesitu," ujarnya. Diakui olehnya, kebijakan penurunan harga BBM akan berdampak pada berkurangnya penerimaan pemerintah. "Tetapi dampak positifnya akan lebih besar," tegasnya. Adapun terkait dengan solar, Kurtubi meminta agar dipisahkan antara subsidi solar yang berasal dari perut minyak bumi dengan biosolar. Biosolar adalah solar yang dihasilkan dari kelapa sawit. Menurutnya, kelapa sawit inilah yang disubsidi. Adapun solar yang diproduksi oleh Pertamina subsidinya berbeda. "Makanya saya minta diperinci berapa subsidi yang solar berasal dari minyak dan berapa solar yang berasal bio solar," ucap Kurtubi. Selain itu, terkait harga asumsi Minyak Mentah Indonesia (ICP) yang dipatok dalam RAPBN 2016 pada angka US 60 dolar dinilai tidak realistis. Oleh karena itu, angka ini mestinya diturunkan ke angka US 50 dolar. "Harga minyak ICP sudah 40-an dolar. Saya dari Fraksi Nasdem mengusulkan untuk diturunkan menjadi 50 dolar per barel untuk tahun 2016," ucapnya. Posisi harga minyak di pasar dunia saat ini memang dibanjiri suplai dari Amerika dan negara-negara OPEC. "OPEC tidak mau kehilangan pangsa pasar jadi mereka tetap menghajar suplai banyak, itu sisi suply-nya," kata Kurtubi.