Jakarta – Pemaparan Dirut Pertamina dalam rapat dengar pendapat dengan DPR memperoleh catatan kritis dari Anggota Komisi Energi Fraksi Partai NasDem, Kurtubi. Salah satunya adalah paparan soal kebutuhan impor LNG, sampai 2025 dengan potensi impor sebesar 4,4 kakikuber per hari. Kurtubi menyebutkan bahwa pemerintah harus berhati-hati terhadap kontrak-kontrak energi yang berjangka panjang. Karena menurutnya ada potensi kerugian besar yang akan dialami pemerintah dengan bentuk kontrak yang demikian. Termasuk didalamnya kontrak jual beli berjangka panjang. Dalam catatannya, Indonesia pernah mengalami kerugian akibat kontrak jangka panjang dalam kasus penjualan LNG ke China dengan harga yang menurutnya terlalu murah. Sementara Indonesia sendiri tidak bisa serta merta merubah kontrak dan perlu menegosiasi ulang untuk memasukkan kepentingan Indonesia didalamnya. “Ini adalah sebuah konsekwensi dari suatu keputusan yang salah, Jangan terulang kontrak – kontrak jangka panjang yang kurang hati-hati,†ungkapnya, Selasa (20/10) di komplek parlemen, Senayan. Terkait potensi impor yang disampaikan Direktur Pertamina, Kurtubi mengkritik keras dan menekakan Pertamina harus lebih serius mengembangkan Blok Natuna yang sudah diketahui memiliki potensi LNG yang besar. Menurutnya, Pertamina bisa saja melakukan kerjasama dengan investor atau kontraktor yang mempunyai teknologi untuk memisahkan CO2 dalam skala besar dilepas pantai Natuna. Selanjutnya Dia mengatakan Pelaksanaan pemisahan CO2 ini dapat dilakuakan secara bertahap misalnya, dengan pembangunan fisik yang sudah dapat dimulai dari sekarang. Dan dalam jangka waktu lima tahun dia memperhitungkan pekerjaan pembangunan fisik yang diperlukan akan dapat selesai. “Setelah itu baru pada saat itu kontrak kerjasama dapat dilakukan. Dia memperkirakan 10 atau 12 tahun kemudian, Pertamina sudah dapat memproduksi sendiri,†ujar legislator asal Dapil NTB ini. Dengan semangat tinggi, salah satu pakar energi ini menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan kandungan gas bumi. Dia berkeyakinan dengan menggunakan teknologi pemisahan CO2 dengan skala besar tentunya harga LNG akan lebih efesien. Selanjutnya harga LNG di Natuna akan sangat murah. Kurtubi meyakini bahwa di Natuna terdapat potensi gas dengan recoverable sebesar 47 Triliun Cubic Feet (TFC ) yang nantinya tersalurkan kedalam pipa-pipa dalam ukuran besar. Dengan demikian kebutuhan Indonesia terhadap energi gas untuk 50 tahun kedepan akan terpenuhi dari Pertamina. “Maka rencana untuk impor perlu dipertimbangkan masak-masak. Studi ekonominya seperti apa. Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari dengan kontrak jangka panjang ini,†kritiknya.