Jakarta - Dengan kondisi geografis yang sangat sulit, Kapal Motor (KM) dari PT. Pelni merupakan harapan bagi warga Kepulauan Riau (KEPRI), khususnya di Natuna dan Anambas sebagai alat transportasi. Namun, seiring pergantian Dirut PT. Pelni, keberadaan kapal penumpang ini malah hilang. Hal ini dikeluhkan oleh warga di dua kepulauan tersebut jelang lebaran. Keluhan ini sebagaimana disampaikan langsung anggota Komisi VII Fraksi NasDem Nyat Kadir kepada Mentri BUMN Rini Soemarno dalam rapat kerja Komisi VII dengan Kementerian BUMN, Selasa (30/6). Ia menjelaskan, Dirut PT. Pelni sebelumnya yang digantikan pada Rabu pekan lalu (22/6), telah memenuhi keinginan warga Kepri untuk penambahan kapal. “Tetapi tiba-tiba sekarang ini ditarik padahal menjelang lebaran sangat penting bagi daerah, Natuna dan Anambas itu harapannya,” gugatnya. Pemegang gelar kehormatan adat masyarakat Melayu ini mengatakan sempat juga menghubungi Dirut PT Pelni yang baru, Elfien Goentoro, untuk meminta penjelasan terkait penarikan kapal. Darinya, Nyat Kadir memperoleh penjelasan bahwa kedua kapal yang sebelumnya melayani Natuna dan Anambas akan dialihkan ke wilayah lain di Indonesia. Penjelasan dari Elfien inilah yang kemudian membuat Nyat Kadir berang. “Nah kemarin dengan PT. Pelni kita mempersoalkan kenapa tidak diadakan penambahan kapal penumpang baru tetapi justru ngotot ke bisnis baru yaitu, kapal barang padahal kapal penumpang sangat dibutuhkan,” ujarnya. Berangnya Mantan Walikota Batam ini dapat dipahami karena mahalnya biaya transporatsi udara apabila kapal laut dihilangkan oleh PT Pelni. “Saya pergi ke Anambas itu harga tiket pesawat Rp 1,25 juta dari Batam, betapa tingginya harga itu. Sama (dengan) ke Jakarta bahkan ke Jakarta masih ada tiket yang lebih murah. Jadi nggak mungkin jalan udara dipenuhi oleh masyarakat, begitu juga dengan Natuna yang harga tiketnya lebih mahal (lagi). Harapan utamanya adalah kapal,” ungkapnya. Lebih jauh, Nyat Kadir juga menyampaikan kebutuhan masyarakat Kepri terhadap kapal barang untuk melengkapi kapal penumpang. Kapal barang ini menurutnya dibutuhkan sebagai alat transportasi komoditas bahan baku. “Sekarang ini harga-harga kebutuhan bahan pokok sangat tinggi di Natuna dan Anambas, bahkan tertinggi untuk Kepri, seperti harga beras (sekarang) diatas 12 ribu. Berbeda dengan Batam, harga beras disana masih dapat dibeli dengan harga 7-8 ribuan karena beras ilegal masih bisa masuk kesana,” ujarnya. Lebih jauh, Nyat Kadir bahkan mengatakan telah mengusulkan kepada Kementerian Perdagangan untuk impor beras khusus untuk guna memenuhi kebutuhan di daerah perbatasan. “Mengenai beras ilegal saya yakin aparat mampu mengatasinya, jadi kita melihat sangat kaku dan belum bisa mengatasi sampai saat ini,” ujarnya. “Saya kira perlu ada jalan keluarnya dalam waktu singkat ini, kapal penumpang minimal satu ini dua – duanya ditarik padahal sangat dibutuhkan menjelang lebaran,” tandasnya mengakhiri.