JAKARTA (20 November): Anggota Komisi XII DPR RI, Irsan Sosiawan, meminta Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk mengutamakan kepentingan nasional terkait pengadaan data dasar geospasial dan peta dasar wilayah. Target utama tender tersebut adalah memroduksi data dasar geospasial skala besar (large-scale) dan base maps untuk wilayah urban dan nonurban di seluruh Tanah Air."Yang jelas, mestinya memprioritaskan kepentingan nasional. Kita sendiri dulu (nasional), nanti partnernya siapa, apakah dari China atau yang lain silahkan, itu terbuka. Karena yang penting Indonesia jelas akan mencari partner yang strategis dan menguntungkan Indonesia sendiri,” kata Irsan, Kamis (20/11/2025)Legislator Fraksi Partai NasDem itu menegaskan, kepentingan nasional harus menjadi prioritas utama. Sebab, proyek itu memiliki urgensi besar untuk menyediakan data dasar yang akurat bagi perencanaan ruang, pengelolaan wilayah, serta penentuan potensi sumber daya alam."Itu menjadi suatu kemaksimalan progres untuk kita mengetahui tata ruang dan segalanya, untuk menjadi data yang konkrit," ungkap Irsan.Dengan adanya ketersediaan data tersebut, kata Irsan, pemerintah bisa memastikan potensi sebuah wilayah. Baik dari segi sumber daya alam maupun lainnya. "Jadi tidak menebak-nebak agar itu menjadi suatu wilayah yang memiliki cadangan atau potensi-potensi kekayaan alam yang ada di seluruh kepulauan Indonesia,” sebut Irsan.Wakil rakyat dari Dapil Aceh II (Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, Kota Langsa, dan Lhokseumawe) itu mengingatkan BIG agar mencari mitra kerja strategis yang menguntungkan Indonesia. “Jangan sampai rahasia sumber daya alam kita diketahui negara lain,” ujar Irsan.Selain itu, Irsan mengaku belum mendengar informasi potensi tender tersebut dimenangkan oleh perusahaan Tiongkok. Diharapkan, BIG memberikan menyampaikan klarifikasi terkait desas-desus tersebut.“DPR belum menerima informasi tersebut. Kami harap BIG bisa menjelaskannya dalam RDP dengan Komisi XII DPR mengingat urgensi kepentingan Indonesia yang besar dalam proyek ini,” ucap Irsan.Proyek geospasial menjadi perhatian publik karena terkait kedaulatan data Indonesia. Sebab, perusahaan asal Tiongkok berpotensi memenangkan tender yang dibiayai dari soft loan Bank Dunia dengan anggaran USD238 juta atau Rp4 triliun dengan kurs Rp16.500. (metrotvnews/*)