Yayuk Sri Wahyuningsih Dorong Revitalisasi Museum dan Benteng Pendem

11 MEI 2015, 16:43:02 WIB 3 MENIT BACA 1631

Ngawi – Pada masa reses III DPR ini, tak disia-siakan oleh anggota Fraksi NasDem yang juga duduk di Komisi X, Yayuk Sri Wahyuningsih. Ia menggelar pertemuan dengan konstituennya di Ngawi, Jawa Timur pada Rabu, (29/04) lalu. Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama, seperti Ketua MUI Ngawi, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kab. Ngawi, perwakilan Dewan Gereja Kab. Ngawi, dan para pensiunan pendidik serta penghulu pun turut hadir dalam pertemuan tersebut.

Tema reses Yayuk kali ini, tak jauh dari urusan pendidikan, sosial budaya, dan pariwisata yang memang sesuai dengan bidangnya.

Dalam acara, Mantan Camat Ngawi, BE Sutrisno mengungkapkan bahwa museum Trinil, yang bekas peninggalan Belanda itu, dalam kondisi tak terurus. “Padahal di museum tersebut, terdapat fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang menjadi pusat penelitian arkeologi nasional bahkan dunia. Maka, pembangunan dan pengelolaan museum ini harus diperjuangkan oleh wakil rakyat,” tegasnya.

Di situs Trinil tak hanya ditemukan fosil manusia purba, tetapi juga hewan bahkan tumbuhan purba. Daerah lembah Sungai Bengawan Solo memang diketahui sebagai kawasan hunian kehidupan purba. Tepatnya dari zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu. Situs ini ditemukan oleh ilmuwan Belanda, Eugène Dubois pada 1891, dengan temuan spesimen manusia Jawa.

Yayuk Reses Dengan MasyarakatSutrisno menekankan kembali kepada Yayuk bahwa kondisi museum itu, saat ini tak cukup terawat. “Bagaimana bisa menjadi sarana belajar, situs bersejarah, atau daya tarik pariwisata, dan kebanggaan budaya Kabupaten Ngawi jika tak terawat,” sesalnya. Yayuk pun menyambut positif usulan tersebut. Di Rumah Makan Suminar, tempat pertemuan itu digelar, Yayuk berjanji akan menindaklanjutinya ke tingkat pengambil keputusan.

Yayuk menyadari betul, selain situs Trinil, Ngawi memiliki potensi situs bersejarah yang sangat beragam juga dari berbagai masa. Misalnya, Benteng Pendem Van Den Bosch, Monumen Suryo, dan Situs Radjiman Wedyodiningrat. Terkait keberadaan Benteng Pendem, datang masukan dari Antonius, perwakilan Dewan Gereja Ngawi. Ia mengusulkan agar Benteng Pendem itu dapat direvitalisasi. “Dari benteng itu, masyarakat dapat mengetahui sejarah, juga menjadi sarana rekreasi edukatif,” sarannya.

Benteng Van den Bosch atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem ini terletak hanya satu km dari Kantor Pemerintahan Kabupaten Ngawi. Benteng ini menjadi saksi mata Perang Diponegoro yang bergolak pada abad ke-19. Benteng ini pun menjadi bukti sejarah Ngawi dan kawasan pinggiran Sungai Bengawan Solo dahulu adalah sentra perdagangan yang maju.

Menanggapi masukan ini, Yayuk menjelaskan prosedur sebelum melakukan tindakan revitalisasi. Kedua situs bersejarah itu, lanjutnya, harus memperhatikan aspek kepemilikan. “Benteng Pendem itu dahulu di bawah kepemilikan aset TNI AD, yaitu Yon Armed 12. Sehingga sekalipun sudah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Ngawi, proses peralihannya belum tuntas hingga saat ini,” jelas Yayuk.

Yayuk juga akan melakukan hal yang serupa untuk memastikan kepemilikan aset Museum Trinil. “Kita juga perlu mengecek lebih lanjut soal Museum Trinil. Apakah masuk ke dalam aset yayasan peninggalan purbakala ataukah sudah menjadi aset daerah,” paparnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih pengelolaan jika nantinya kedua situs sejarah ini akan direvitalisasi.

Selain soal situs sejarah dan potensi pariwisata, Yayuk juga mendapatkan masukan mengenai sistem pendidikan nasional dari Ketua MUI Ngawi, KH Syarwan Gunawan. Kyai Syarwan menekankan pentingnya kurikulum pendidikan berbasis budi pekerti. “Hanya dengan cara inilah kita dapat menyeimbangkan perkembangan dan kemajuan bangsa, tidak hanya dari segi pembangunan fisik, namun juga mental masyarakatnya,” tegasnya. Yayuk mengamini usulan Kyai Syarwan, sebab pendidikan budi pekerti mutlak dibutuhkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

Yayuk pun berjanji akan meneruskan aspirasi masyarakat ini kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, juga Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang menjadi mitra kerjanya di Komisi X. (MCNasDem)