DPR: Pompa Sumur Bisa Jadi Alternatif Atasi Kekeringan

16 SEPTEMBER 2015, 11:38:49 WIB 2 MENIT BACA 1260
Jakarta – Terpaan kemarau panjang tahun ini telah mengeringkan beberapa daerah di kawasan nusantara. Badan Meteorologi dan Geofisika memindai, setidaknya ada 10 kawasan berpotensi kekeringan cukup serius akibat hembusan angin muson timur. Diperkirakan, musim kering ini masih terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
 
Menyikapi kondisi tersebut, anggota Komisi IV DPR Hamdani mengharap Kementerian Pertanian mengintensifkan program pompa-pompa sumur dangkal di kawasan terdampak kekeringan, khususnya di sentra-sentra pertanian. Pompa-pompa sumur itu bisa menjadi skema alternatif pengairan bagi lahan persawahan, lantaran saluran primer dan sekunder tak bisa lagi diandalkan di tengah kekeringan.
 
"Stok air di irigasi tersier ini tidak ada lagi karena kering, maka saat ini diperlukan alternatif lain dengan pengambilan air melalui pompa dari sumur-sumur dangkal," katanya di sela-sela rapat kerja Komisi IV dengan Menteri Pertanian di Komplek Senayan, Senin (14/9).
 
Langkah itu perlu ditempuh guna menyelamatkan stok beras nasional di tengah kemarau yang berpotensi mengakibatkan gagal panen. Hamdani mengutarakan, bahwa di atas tanah nusantara yang relatif subur, persoalan panen lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ketersediaan air. Maka, kalau sistem irigasi ke areal persawahan tersedia dengan baik, musim kemarau panjang tidak akan berpengaruh banyak terhadap hasil panen. “Panen padi masih tetap bisa dilakukan 3 kali setahun," ujar legislator asal kalimantan tengah ini.
 
Lebih lanjut, politisi Partai NasDem ini menegaskan bahwa tak selayaknya kita terus-menerus menyalahkan faktor cuaca sebagai penyebab gagal panen. Dengan capaian ilmu pengatahuan dan teknologi yang kita dapat saat ini, ada berbagai cara yang bisa ditempuh untuk tetap bertahan di bawah terpaan cuaca yang kurang bersahabat. Dengan kacamata ini, selayaknya kita lebih melihat faktor inisiatif dan usaha yang ditempuh oleh sumber daya manusia kita dalam menyiasati cuacat tersebut.
 
Dalam hemat Hamdani, penataan sistem irigasi adalah faktor yang sangat krusial untuk menghadapi permasalahan cuaca ini. Meskipun begitu, kondisi saat ini masih terbilang belum cukup berbahaya bagi kondisi ketahanan pangan kita, dengan syarat bahwa pemerintah megambil langkah-langkah tepat untuk megnhadapi cuaca yang ada.
 
Dengan sudut pandang itu, maka keberhasilan atau kegagalan panen adalah faktor manusianya. Ketika panen berhasil, kita perlu belajar dari langkah-langkah kebijakan yang mendukungnya. Begitu juga sebaliknya, ketika panen gagal, perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja sumber daya manusia yang menopangnya. 
 
"Masa hanya faktor cuaca yang dijadikan alasan gagalnya panen ," tutupnya.